Tujuan Utama Puasa Di Bulan Ramadhan Adalah Pengendalian Diri
Bekasi Kota | Mitrapubliknews.com --Suasana Ramadan 1447 Hijriah kembali menghadirkan keteduhan di tengah masyarakat, dalam rangkaian program religi menjelang waktu berbuka, Ustadz Firdaus Yusuf secara live menyampaikan esensi spiritual, sosial, dan moral dari ibadah puasa, bertajuk “Tujuan Utama Puasa” di tayangkan oleh BRTV,Rabu, 25/2/2026.
Ustadz Firdaus juga menjelaskan bahwa inti dari ibadah puasa bukan semata menahan lapar dan dahaga, melainkan proses pembentukan karakter dan pengendalian diri, sesuai firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, bahwa puasa diwajibkan agar manusia mencapai derajat takwa.
“Puasa bukan hanya ibadah fisik, tetapi ibadah rohani. Lapar dan haus hanyalah sarana untuk melatih kesabaran, kejujuran, serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT,” ujarnya.
Takwa sebagai tujuan Utama adalah kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap perbuatan manusia.
Puasa melatih umat Islam untuk jujur, bahkan ketika tidak ada manusia yang melihat. Dalam kondisi sendiri sekalipun, seorang yang berpuasa tetap menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan puasanya.
Ustadz Firdaus menegaskan bahwa dimensi ini menjadikan puasa sebagai ibadah yang sangat personal dan penuh integritas.
“Di situlah letak nilai keagungan puasa. Ia membentuk pribadi yang bertanggung jawab, baik dalam ruang privat maupun publik,” ucapnya.
Dimensi Sosial Puasa Selain aspek spiritual, puasa juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Dengan merasakan lapar dan dahaga, umat Islam diajak untuk lebih peka terhadap kondisi kaum dhuafa. Momentum Ramadan menjadi ruang untuk memperkuat solidaritas sosial melalui zakat, infak, dan sedekah.
Dalam konteks kehidupan modern yang cenderung individualistik, pesan empati yang lahir dari puasa menjadi sangat relevan. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan puasa tercermin pada perubahan sikap setelah Ramadan berakhir. Pengendalian Diri dan Transformasi Moral.
Lebih lanjut, Ustadz Firdaus Yusuf menekankan pentingnya menjaga lisan, emosi, serta perilaku selama berpuasa. Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa banyak orang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga, karena gagal menjaga sikap dan perkataan.
Menurutnya puasa adalah, madrasah pengendalian diri, dengan demikian Ramadan menjadi momentum evaluasi, memperbaiki akhlak, serta membangun kebiasaan baik yang berkelanjutan.
Harapan Ramadan 1447 H
Menutup kultumnya, Ustadz Firdaus Yusuf mengajak jamaah untuk menjadikan Ramadan 1447 H sebagai titik balik spiritual. Ia berharap puasa tidak berhenti sebagai ritual tahunan, melainkan menjadi proses pembaruan diri yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Jika setelah Ramadan kita menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih jujur, dan lebih peduli, maka itulah tanda puasa kita berhasil,” tegasnya.
Ramadan kembali mengingatkan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk manusia bertakwa—pribadi yang kuat secara spiritual, matang secara emosional, serta peka secara sosial. Di tengah dinamika kehidupan modern, pesan ini menjadi refleksi penting bagi setiap insan yang menjalankan ibadah suci tersebut.
(Agus Kanit)
























.jpg)



